Tahun baru Islam ini, saya tidak ingin menjadi lebih baru lagi dari yang lama, yang telah ada, karena yang lama; apabila cukup baik, maka ialah yang pantas untuk tetap bersemi menjadi "kebaharuan" yang "lama-memperbaharui".
Biarlah yang lama yang memperbaharui segala teriakan "pembaharuan". Biarlah yang lama tetap memproduksi "Ketelah-adaan" yang baru, karena "pembaharuan yang telah ada" akan tetap abadi dan baru. Bahkan, sampai detik ini, tanpa batas apapun.
Saya ingin menerjemahkan bahasa saya ini untuk lebih mudah dipahami. Dulu, berkomunikasi Via BBM, WA, Tweet, Line adalah hal yang baru; Modern, itu baru bagi Dulu. Berkomunikasi via SMS dan Telpon adalah hal lama, lama bagi masa sekarang.
Kini mulai semakin membaharui, Komunikasi via Telpon dan SMS menjadi sesuatu yang semakin klasik, semakin menciptakan ruang waktu tidak imbang (Sms dan Telpon milik kaum kolot, dan BBM, WA, Fb, Tweet, Imo, Line milik kaum modern), padahal esensinya setara.
Pada fase ini seakan waktu terus melompat meninggalkan dan merivisi setiap cara lama manusia, hingga Tweet, Wa, Bbm kini gaya lama yang drajatnya lebih baru dari telpon dan Sms.
Kita melupakan esensinya; Intinya adalah komunikasi, dengan cara apapun, tidak ada yang klasik dan terapdate, Sms dan WA, bbm itu setara dalam esensinya. Hanya propertis saja yang membedakannya, itu bukan esensi. Dan properti inilah yang menipu dan merekayasa setiap esensi yang seharusnya tampil "Oriisinal".
Kini, kita harus mengembalikannya; yang lama atau baru pada setiap esensinya, yakni untuk selalu menjadikannya yang baru dan yang lama itu setara tanpa "level up to date". Upaya ini berfungsi agar kita tidak tergiur pada setiap pembaharuan-pembaharuan yang mengkaburkan segala esensi kehidupan, It's "The return of essence".
Setiap pembaharuan membawa doktrin bahwa "masa lalu" seakan sebuah kegagalan. Sehingga setiap hari kita dihantui racun "harus" memperbaharui segalanya, padahal ada masa lalu, dimana kita tak perlu berpikir untuk memperbaharuinya, yakni nilai dan ajaran Islam yang esensial.
Hantu pembaharuan semakin menggrogoti dengan munculnya permintaan pembaharuan aplikasi dalam gadget canggih kita. Seakan masa lalu(aplikasi lama) adalah siksaan, hingga perlu pembaharuan aplikasi sebagai "tax amnestinya". Gaya inilah yang membuat manusia mengalami "Minus" abadi.
"Manusia akan kembali pada cara-cara klasik, karena suatu saat, banyak orang yang sadar bahwa pembaharuaan hanya upaya ketidakmampuan waktu dalam menyusun masa lalu yang begitu esensial. Pada waktu itu pula, gaya klasik; yang memuat esensi akan bangkit dengan ketelahadaannya dan menjadi sesuatu yang baru dan abadi"
Sungguh aku tak mau yang baru, aku ingin abadi dengan nilai lama yang membaharui tanpa waktu, Abadi.
Komentar
Posting Komentar